Hidup itu Kebahagiaan yang harus di syukuri

Senin, 23 April 2012

Resume Film


1. film Temple Grandin
Temple Grandin adalah seorang gadis yang divonis menderita autisme akut sehingga membuat dirinya berbeda dengan kebanyakan gadis lain seumurnya. Seperti penderita autisme pada umumnya, Grandin mengalami kesulitan untuk dapat mengekspresikan emosinya dan berkomunikasi dengan lingkungannya, dan hidup dalam dunianya sendiri, mungkin hanya sang ibu, Eustacia (Julia Ormond) dan bibinya, Anne (Catherine O’Hara) yang selama ini paling mengerti diri Grandin dan menjadi penyemangatnya dalam menjalani kehidupannya
Suatu hari grandin mengunjungi bibinya selama musim panas dan bekerja di peternakan nya. Grandin selalu terpesona oleh binatang karena mereka "berpikir seperti dia" dan dia tampaknya sangat tertarik pada perangkat pelukan untuk membuat sapi-sapi menjadi tenang untuk divaksinasi. Suatu hari, Grandin merasa panic dan cemas karena melihat sesuatu yang berbeda pada kamarnya, Grandin langsung berlari dan masuk kedalam alat penenang sapi. Ia bermaksud untuk menenangkan dirinya seperti yang dirasakan sapi ketika masuk dalam perangkat tersebut.
Ketika Grandin pertama menghadiri kuliah, dia sangat gugup ketika ia pindah ke asrama kuliahnya. Melihat suasana yang baru Grandin merasa sangat cemas dan terlihat sangat ketakutan saat melihat kamarnya, tetapi ibunya memberikan waktu untuk menenangkan diri dengan menutup pintu. Segera setelah itu, ibunya mengingat kilas balik ketika Grandin masih kecil dan mengamuk tiada henti saat pesta ulang tahun. Sebelum itu, Grandin didiagnosis dan divonis menderita autism akut, di mana ia tampak menyendiri, kurang kontak mata, sulit berkomunikasi, dan menghindari kasih sayang manusia dan sentuhan. Pada saat ini, diklasifikasikan autism dalam ilmu pengetahuan sebagai bentuk skizofrenia,. diagnostik yang disarankan yaitu menempatkan Grandin dalam lembaga . ibu Grandin menolak untuk mendengarkan diagnostik dan membantu Grandin beradaptasi dengan dunia sehari-hari. ibunya mengajarkan Grandin untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain dan mengenali dunia sekitarnya.
Selama kuliah, ia merancang perangkat yang cara kerjanya seperti alat penenang sapi yang ada di peternakan sapi bibinya. Alat tersebut dibuat untuk dirinya sendiri dan digunakan saat dia mengalami kecemasan, karena Grandin tidak menyukai kasih sayang secara fisik. Mesin pelukan kedua sisi dari dirinya untuk menenangkannya, saat dia kontrol tekanan, dan itu membuat dia santai setiap kali ia menjadi tegang. Meskipun mesin bekerja, sekolah tidak menyetujui alat tersebut ada didalam asrana, mengklaim bahwa itu adalah beberapa jenis perangkat seksual. Kemudian setelah liburan musim semi berakhir, Grandin dan bibinya datang kembali ke sekolah untuk membujuk sekolah untuk membiarkan dia menggunakan perangkat yang dibuat oleh Grandin. Grandin kemudian terbukti melalui studi ilmiah yang ketat bahwa mesin itu hanya sebuah perangkat menenangkan dan sebagai akibatnya, ia diizinkan untuk menyimpannya.
Kemudian, Dia dikeluarkan dari sekolah sebelumnya karena seorang anak mengejek dan dia memukulnya dengan buku. Grandin dan ibunya pergi kesekolah lain. Di sana, ia bertemu seorang guru yang melihat kelebihan Grandin dan sangat mendukungnya, Dr Carlock, yang mendorong dia untuk melangkah lebih jauh ke dalam ilmu pengetahuan sebagai karir dan akhirnya menghadiri kuliah. Grandin memang lulus dari perguruan tinggi dan menjadi pekerja di peternakan. Dia merubah dan memperbaiki pemotongan untuk sapi sehingga jauh lebih manusiawi. Film ini diakhiri dengan sebuah konvensi autisme wajar, yang dihadiri Grandin dan ibunya. Grandin berbicara keluar dari kerumunan dan mengatakan kepada penonton bagaimana ia mengatasi kesulitan dan mampu mencapai akademis, serta bagaimana ibunya membantu menangani nya dengan dunia sehari-hari. Orang-orang menjadi begitu terpesona dan mereka meminta Grandin untuk berbicara di depan auditorium.

Kaitannya dengan teori dalam psikologis
1.         Teori kepribadian
Dalam film tersebut Grandin mempelajari kehidupan sosialnya pada sapi-sapi. dia mengikuti cara sapi untuk menenangkan dirinya saat mengalami tegang. Karena seorang autis biasanya tidak ingin disentuh dan diberikan kasih sayang secara fisik.ia merasa tubuhnya sakit saat disentuh. Seorang autis juga tidak menyukai jika sesuatu atau tempat yang ia miliki dan kenali berubah, itu akan menimbulkan tegangan pada dirinya dan karena dia harus kembali menyesuaikan dirinya terhadap suasana baru tersebut. Walaupun perubahan itu hanya sedikit dan tidak menyeluruh.


2.             teori social learning dari Bandura
Tingkah laku individu diperoleh dari hasil modeling dan pengamatan. Modelling dilakukan melalui empat proses yaitu perhatian, representasi, peniruan tingkah laku, dan motivasi dan penguatan. Perhatian dipengaruhi oleh asosiasi pengamat dengan orang yang diamati (model), sifat dari model tersebut, dan arti penting tingkah laku yang diamati. Representasi berarti tingkah laku yang akan ditiru harus disimbolisasikan dalam ingatan. Dalam peniruan tingkah laku, pengamat harus mempunyai kemampuan untuk menirukan perilaku dari model yang diamati. Modeling ini akan efektif jika orang yang mengamati mempunyai motivasi yang tinggi untuk meniru tokoh yang diamatinya.

Contoh :
Grandin mempelajari sosialnya dengan memodeling sapi-sapi di peternakan. Saat dia mengalami kecemasan atau tegang dia menenangkan dirinya seperti yang dilakukan pada sapi, yaitu dengan masuk kedalam perangkat penenang sapi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar