1. film Temple
Grandin
Temple
Grandin adalah seorang gadis yang divonis menderita autisme akut sehingga
membuat dirinya berbeda dengan kebanyakan gadis lain seumurnya. Seperti
penderita autisme pada umumnya, Grandin mengalami kesulitan untuk dapat mengekspresikan
emosinya dan berkomunikasi dengan lingkungannya, dan hidup dalam dunianya
sendiri, mungkin hanya sang ibu, Eustacia (Julia Ormond) dan bibinya, Anne
(Catherine O’Hara) yang selama ini paling mengerti diri Grandin dan menjadi
penyemangatnya dalam menjalani kehidupannya
Suatu hari grandin mengunjungi bibinya
selama musim panas dan bekerja di peternakan nya.
Grandin selalu terpesona oleh binatang karena mereka "berpikir seperti
dia" dan dia tampaknya sangat tertarik pada perangkat pelukan untuk membuat
sapi-sapi menjadi tenang untuk divaksinasi. Suatu hari, Grandin merasa panic
dan cemas karena melihat sesuatu yang berbeda pada kamarnya, Grandin langsung
berlari dan masuk kedalam alat penenang sapi. Ia bermaksud untuk menenangkan
dirinya seperti yang dirasakan sapi ketika masuk dalam perangkat tersebut.
Ketika Grandin pertama menghadiri kuliah,
dia sangat gugup ketika ia pindah ke asrama kuliahnya. Melihat suasana yang
baru Grandin merasa sangat cemas dan terlihat sangat ketakutan saat melihat kamarnya,
tetapi ibunya memberikan waktu untuk menenangkan diri dengan menutup pintu.
Segera setelah itu, ibunya mengingat kilas balik ketika Grandin masih kecil dan
mengamuk tiada henti saat pesta ulang tahun. Sebelum itu, Grandin didiagnosis
dan divonis menderita autism akut, di mana ia tampak menyendiri, kurang kontak
mata, sulit berkomunikasi, dan menghindari kasih sayang manusia dan sentuhan.
Pada saat ini, diklasifikasikan autism dalam ilmu pengetahuan sebagai bentuk skizofrenia,.
diagnostik yang disarankan yaitu menempatkan Grandin dalam lembaga . ibu Grandin menolak untuk
mendengarkan diagnostik dan membantu Grandin beradaptasi dengan dunia
sehari-hari. ibunya mengajarkan Grandin untuk bisa berkomunikasi dengan orang
lain dan mengenali dunia sekitarnya.
Selama kuliah, ia merancang perangkat yang
cara kerjanya seperti alat penenang sapi yang ada di peternakan sapi bibinya.
Alat tersebut dibuat untuk dirinya sendiri dan digunakan saat dia mengalami
kecemasan, karena Grandin tidak menyukai kasih sayang secara fisik. Mesin
pelukan kedua sisi dari dirinya untuk menenangkannya, saat dia kontrol tekanan,
dan itu membuat dia santai setiap kali ia menjadi tegang. Meskipun mesin bekerja,
sekolah tidak menyetujui alat tersebut ada didalam asrana, mengklaim bahwa itu
adalah beberapa jenis perangkat seksual. Kemudian setelah liburan musim semi
berakhir, Grandin dan bibinya datang kembali ke sekolah untuk membujuk sekolah
untuk membiarkan dia menggunakan perangkat yang dibuat oleh Grandin. Grandin
kemudian terbukti melalui studi ilmiah yang ketat bahwa mesin itu hanya sebuah
perangkat menenangkan dan sebagai akibatnya, ia diizinkan untuk menyimpannya.
Kemudian, Dia dikeluarkan dari sekolah
sebelumnya karena seorang anak mengejek dan dia memukulnya dengan buku. Grandin
dan ibunya pergi kesekolah lain. Di sana, ia bertemu seorang guru yang melihat
kelebihan Grandin dan sangat mendukungnya, Dr Carlock, yang mendorong dia untuk
melangkah lebih jauh ke dalam ilmu pengetahuan sebagai karir dan akhirnya
menghadiri kuliah. Grandin memang lulus dari perguruan tinggi dan menjadi
pekerja di peternakan. Dia merubah dan memperbaiki pemotongan untuk sapi
sehingga jauh lebih manusiawi. Film ini diakhiri dengan sebuah konvensi autisme
wajar, yang dihadiri Grandin dan ibunya. Grandin berbicara keluar dari
kerumunan dan mengatakan kepada penonton bagaimana ia mengatasi kesulitan dan
mampu mencapai akademis, serta bagaimana ibunya membantu menangani nya dengan
dunia sehari-hari. Orang-orang menjadi begitu terpesona dan mereka meminta Grandin
untuk berbicara di depan auditorium.
Kaitannya
dengan teori dalam psikologis
1.
Teori
kepribadian
Dalam
film tersebut Grandin mempelajari kehidupan sosialnya
pada sapi-sapi. dia mengikuti cara sapi untuk menenangkan dirinya saat
mengalami tegang. Karena seorang autis biasanya tidak ingin disentuh dan
diberikan kasih sayang secara fisik.ia merasa tubuhnya sakit saat disentuh. Seorang autis juga tidak menyukai jika sesuatu atau
tempat yang ia miliki dan kenali berubah, itu akan menimbulkan tegangan pada
dirinya dan karena dia harus kembali menyesuaikan dirinya terhadap suasana baru
tersebut. Walaupun perubahan itu hanya sedikit dan tidak menyeluruh.
2.
teori
social learning dari Bandura
Tingkah
laku individu diperoleh dari hasil modeling dan pengamatan. Modelling dilakukan
melalui empat proses yaitu perhatian, representasi, peniruan tingkah laku, dan
motivasi dan penguatan. Perhatian dipengaruhi oleh asosiasi pengamat dengan orang
yang diamati (model), sifat dari model tersebut, dan arti penting tingkah laku
yang diamati. Representasi berarti tingkah laku yang akan ditiru harus
disimbolisasikan dalam ingatan. Dalam peniruan tingkah laku, pengamat harus
mempunyai kemampuan untuk menirukan perilaku dari model yang diamati. Modeling
ini akan efektif jika orang yang mengamati mempunyai motivasi yang tinggi untuk
meniru tokoh yang diamatinya.
Contoh
:
Grandin
mempelajari sosialnya dengan memodeling sapi-sapi di peternakan. Saat dia
mengalami kecemasan atau tegang dia menenangkan dirinya seperti yang dilakukan
pada sapi, yaitu dengan masuk kedalam perangkat penenang sapi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar