Hidup itu Kebahagiaan yang harus di syukuri

Selasa, 23 November 2010

Percaya Diri


Banyak ahli yang mengatakan bahwa percaya diri adalah modal yang sangat penting untuk meraih kesuksesan. Ini juga yang akan menjadi pembeda antara pemenang dan pecundang.

Percaya diri merupakan sikap positif seseorang yang mampu mengembangkan penilaian positif, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan dan situasi yang dihadapinya. Bukan berarti ia adalah mampu dalam segala hal.

Ia tetaplah manusia dengan segala keterbatasannya, namun pada saat yang sama ia merasa memiliki kompetensi, yakin, mampu dan percaya bahwa dia bisa melakukannya. Hal ini semata-mata didukung oleh pengalaman, potensi aktual, prestasi serta harapan yang realistis terhadap diri sendiri.

Ingat, setiap orang itu berbeda, dengan keistimewaannya masing-masing. Kesadaran akan hal ini akan membantu Anda untuk mengungkap keistimewaan yang Anda miliki. Hal ini akan mendorong Anda untuk bangkit dan bergerak dengan percaya diri, merumuskan cita-cita hidup dan mendukung tercapainya cita-cita tersebut.

Berhentilah menjadi orang minder, yang seringkali cepat menyerah, tersiksa atas kesuksesan orang lain, kehilangan percaya diri, sensitif, hingga tidak memiliki selera humor sama sekali.

Jika Anda masih merasa kurang dalam beberapa sisi, jangan memposisikan diri dalam posisi bertahan dan lari dari kenyataan. Ini semua bukanlah solusi. Anda akan tetap saja seperti ini, tanpa ada kemajuan yang berarti.

Berikut ini adalah kompilasi berbagai alasan untuk percaya diri ;

PERCAYA DIRI BERARTI MAMPU MENGONTROL

Percaya diri Anda dibangun dengan berlatih untuk mengontrol berbagai hal. Dengan tingkat percaya diri yang makin baik, akan Anda akan lebih mampu mengontrol berbagai hal. Dengan percaya diri yang lebih tinggi, Anda akan mampu mengontrol berbagai aspek dari kehidupan Anda.

Dengan mampu mengontrol berbagai aspek diri pribadi Anda, Anda akan lebih jernih dalam melihat dan mengatur tujuan dan sasaran pribadi Anda. Dengan kejelasan dalam tujuan dan sasaran Anda, maka Anda akan lebih mampu dalam mengarahkan perilaku Anda menuju kepada keberhasilan Anda.

PERCAYA DIRI BERARTI TAHU KAPASITAS DIRI

Dengan percaya diri, Anda akan memahami seluk beluk dan tingkat kapasitas yang Anda miliki. Dengan mengetahui kapasitas diri, Anda akan mampu melakukan analisis SWOT untuk diri pribadi Anda.

Dengan memahami aspek SWOT diri Anda sendiri, maka Anda akan tahu persis dari mana harus memulai dan kemana akan berakhir.

PERCAYA DIRI BERARTI PENINGKATAN KEMAMPUAN BELAJAR

Hidup Anda adalah sekolah Anda. Cara belajar Anda mengikuti dua pola, yaitu shaping alias pembentukan dan modelling alias teladan. Percaya diri akan membuat Anda menjadi orang yang lebih mampu dalam melakukan self development, pengembangan dan perbaikan, dan lebih mampu dalam mengambil suri tauladan serta melakukan berbagai inovasi sebagai kelanjutannya.

PERCAYA DIRI BERARTI YAKIN AKAN FUNGSI DIRI

Dengan percaya diri, Anda akan lebih yakin bahwa keseluruhan diri Anda akan berfungsi dengan baik. Dengan percaya diri Anda akan mampu mendorong diri Anda untuk total, maksimal dan optimal. Dengan semua itu, Anda akan mencapai kemandirian dan kemerdekaan.

Senin, 22 November 2010

Motivasi

I. Pendahuluan

Motivasi adalah suatu yang sangat pupoler dikalangan psikologi.istilah motivasi pun telah mengalami banyak perubahan sejak ditemukannya hingga saat ini.pada dasarnya motivasi adalh suatu dorongan yang berasal dari dalam diri seseorang maupun dorongan dari luar.motivasi sering disebut juga dengan pembangkit gairah untuk mencapai sesuatu yang telah diharapkan oleh seorang individu ataupun kelompok.biasanya motivasi ada karena ada suatu tujuan.

Dalam kehidupan motivasi sangat berperan penting,karena tanpa adanya motivasi individu tidak akan melakukan sesuatu apapun,akan selalu diam ditempat tanpa ada perubahan yang terlihat jelas.karena alasan itu banyak para ahli tidak hanya dari psikologi meneliti tentang motor penggerak manusia ini.tidak lelah para ahli tersebut mencari apa dan bagaimana motivasi itu ada.pada akhirnya mereka berhasil mengukngkap Kekuatan dari motivasi tersebut.

Sekarang motivasi sudah banyak dikembangkan dengan berbagai treatment treatment yang dilakukan.karena tidak hanya diteliti oleh ahli psikologi maka motivasi dapat berguna dimana saja setiap keadaan apa saja.begitu mudah untuk membuat motivasi itu ada dan juga sangat sulit untuk mempertahankan motivasi.

II. Pengertian Motivasi

Motivasi adalah faktor yang mendorong orang untuk bertindak dengan cara tertentu. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa motivasi pada dasarnya adalah kondisi mental yang mendorong dilakukannya suatu tindakan (action atau activities) dan memberikan kekuatan (energy) yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan, memberi kepuasan ataupun mengurangi ketidakseimbangan. Oleh karena itu tidak akan ada motivasi, jika tidak dirasakan rangsangan-rangsangan terhadap hal semacam di atas yang akan menumbuhkan motivasi, dan motivasi yang telah tumbuh memang dapat menjadikan motor dan dorongan untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan atau pencapaian keseimbangan.

Pada dasarnya motivasi itu hanya dua, yaitu untuk meraih kenikmatan atau menghindari dari rasa sakit atau kesulitan. Uang bisa menjadi motivasi kenikmatan maupun motivasi menghindari rasa sakit. Jika kita memikirkan uang supaya kita tidak hidup sengsara, maka disini alasan seseorang mencari uang untuk menghindari rasa sakit. Sebaliknya ada orang yang mengejar uang karena ingin menikmati hidup, maka uang sebagai alasan seseorang untuk meraih kenikmatan.

III. Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi

Ada tiga factor yang mempengaruhi motivasi seseorang yaitu kebutuhan, dorongan, dan tujuan (koeswara, 1989; Siagian, 1989; Schein, 1991; Biggs & Telfer, 1987). Apabila seseorang mempunyai kebutuhan yang mendesak maka motivasinya akan meningkat, misalnya ; ada orang yang sangat lapar karena tidak makan selama tiga hari – tiga malam (lapar merupakan kebutuhan biologis) maka dia akan makan dengan sangat lahap, dari pada orang yang perutnya kenyang. Hal ini menggambarkan tentang motivasi makan. Dorongan juga sangat mempengaruhi motivasi. Dorongan ini biasanya berupa reward (penghargaan) dan punishment (hukuman). Misalnya seorang anak yang takut diberi hukuman bila tidak mengerjakan PR oleh gurunya, maka dia akan memaksakan diri untuk mengerjakan meskipun dia tidak bisa. Begitupun juga, misalnya seorang guru yang bernama “X” berjanji akan membelikan Honda Jazz bagi yang mengerjakan PR. Jangankan murid dikelasnya, murid dikelas lain, atau bahkan murid disekolah-sekolah lainnya akan berebutan mengerjakan PR yang diberikan oleh guru “X” tadi. Faktor terakhir yang mempengaruhi motivasi adalah tujuan. Tujuan, cita-cita, dan visi seseorang sangat mempengaruhi motivasi. Karena hal inilah, bapak besar proklamtor bangsa Indonesia Ir Soekarno pernah berkata, “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”. Hal ini sangatlah benar, misalnya seorang perempuan yang bercita-cita hanya sebagai ibu rumah tangga maka motivasinya dalam bersekolah, beraktualisasi diri dan mengukir prestasi akan rendah, karena tujuan hidup bagi dia jelas sekali, hanya berkisar dapur, sumur, dan kasur (ungkapan adat jawa tradisional terhadap para perempuan). Hal tersebut akan berbeda bila kita bandingkan dengan seorang perempuan yang bercita-cita ingin jadi presiden, dia akan belajar dengan giat, mencoba aktif dalam partai-partai politik, mengukir prestasi yang bisa mengangkat harkatnya sebagai seorang wanita.

IV. Jenis-jenis motivasi

a. Motivasi Intrinsik

Motivasi intrinsik adalah motif–motif (daya penggerak) yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena di dalam diri setiap individu sudah terdapat dorongan untuk melakukan sesuatu.

b. Motivasi Ekstrinsik

Dorongan yang menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu itu bersumber pada suatu kebutuhan kebutuhan yang harus dipenuhi.

Menurut Mc Clelland dalam Amirullah (2002:154-155) mengemukakan tiga kebutuhan manusia adalah kebutuhan akan prestasi (need for achievement), kebutuhan akan afiliasi (need for affiliation), dan kebutuhan akan kekuasaan (need for power). Orang dengan kebutuhan yang tinggi cenderung suka bertanggung jawab untuk memecahkan berbagai macam persoalan, mereka cenderung menetapkan sasaran yang cukup sulit untuk mereka sendiri dan mengambil resiko yang sudah diperhitungkan untuk mencapai sasaran tersebut.

c. motivasi positif

motivasi positif adalah proses untuk mencoba mempengaruhi orang lain agar menjalankan sesuatu yang kita inginkan dengan cara memberikan kemungkinan untuk mendapatkan hadiah.

d. motivasi negative

Motivasi negatif adalah proses untuk mempengaruhi seseorang agar mau melakukan sesuatu yang kita inginkan tetapi teknik dasar yang digunakan adalah lewat kekuatan ketakutan.

V. Pengaruh motivasi

a.Pengaruh motivasi terhadap kinerja

motivasi berperan penting dalam mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat produktivitas kerja, karena dengan motivasi yang tinggi, semangat kerja menjadi tinggi dan produktivitas kerja meningkat. Sebaliknya motivasi yang rendah menyebabkan semangat kerja pun rendah dan produktivitas kerja pun menurun. Dengan demikian peranan motivasi pun sangatlah penting. Karena dapat mempengaruhi atau mendorong karyawan berbuat untuk menyelesaikan tujuan yang diinginkan dan melaksanakan pekerjaan secara efektif dan efesien.

Adanya motivasi yang tinggi akan mengakibatkan semangat kerja yang tinggi pula dalam diri pegawai karyawan. Tinggi rendahnya semangat kerja seseorang dapat dilihat melalui tingkat disiplin kerja, kerjasama, tanggung jawab dan produktivitas kerja. Kinerja tinggi bisa dicapai dengan 3 aspek penting: sistem, kompetensi, dan motivasi. Ketiga aspek ini harus ada dan sama-sama kuat jika ingin menghasilkan kinerja tinggi baik secara individu maupun organisasi.

b.Pengaruh motivasi dalam belajar

Belajar tanpa motivasi bagaiakan kendaraan bermotor tanpa bahan bakar, sehingga semewah apapun kendaraan tersebut tidak akan bisa dijalankan tanpa adanya bahan bakar. Selengkap apapun fasilitas yang dimiliki seseorang, meskipun ribuan eksemplar buku yang dia miliki, walaupun ratusan juta rupiah biaya yang dimiliki untuk pendidikan, tidak akan berpengaruh jika motivasi belajar tidak melekat didalam dirinya. Begitupun sebaliknya, seminim dan semiskin apapun seseorang apa bila motivasi belajarnya tinggi maka kekurangan didalam dirinya hanyalah kerikil kecil yang menghalangi langkah. Oleh karena itu apabila motivasi yang bersifat intrinsik (dari dalam diri) tidak dipunyai, maka motivasi ekstrinsik (dari luar diri) harus segera aktif untuk membangkitkan motivasi intrinsik tersebut. Motivasi ekstrinsik yang paling utama adalah dari orang tua atau keluarga. Hal ini dikarenakan semenjak kecil anak bersosialisasi, menerima pendidikan (pendidikan informal) pertama kalinya adalah didalam keluarga, dan pendidikan yang diperoleh dalam keluarga ini merupakan pendidikan yang terpenting atau utama terhadap perkembangan pribadi anak (Drs. Suwarno). Banyak kita ketahui orang tua yang hanya memberikan uang kepada anaknya untuk kuliah, dilengkapinya fasilitas kendaraan bermotor, Handphone, komputer, dll. Memang benar apabila lengkapnya fasilitas akan sangat menunjang seseorang dalam belajar, namun tanpa adanya motivasi baik intrinsic maupun ekstrinsik fasilitias tersebut tidak akan berpengaruh , bahkan bisa saja disalah gunakan. Dari hal ini maka muncullah kenakalan remaja, misalnya kebut-kebutan dijalan, uang SPP untuk beli narkoba, bahkan untuk berzinah.Dengan pembahasan yang panjang lebar tersebut diatas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan. Belajar sebagai proses interaksi untuk mencapai tujuan akan lbeih efektif, bila ditunjang dengan motivai yang tinggi, baik yang berupa intrinsik maupun ekstrinsik. Dan orang tua adalah hal yang signifikan dalam membangkitkan motivasi seseorang.

VI. Kesimpulan

Motivasi adalah suatu perasaan yang mendorong untuk mencapai suatu tujuan. motivasi sangat berpengaruh dalam setiap kehidupan individu, karena tanpa adanya motivasi individu tidak akan melakukan apa-apa meskipun telah mempunyai keahlian. banyak cara untuk memiliki motivasi, tergantung dari apa yang akan dituju. Tinggi rendahnya motivasi dapat disebabkan karena kita tidak tahu manfaat dan keuntungan apa yang sedang kita kerjakan.

VII. Daftar pustaka

Sabtu, 13 November 2010

tipikal seorang entrepreneurship

9 Kepribadian seorang entrepreneur (menurut asian brain)

1. The Improver.

Anda memiliki kepribadian ini jika Anda menjalankan bisnis dengan
menonjolkan gaya improver alias ingin selalu memperbaiki.
Anda menggunakan perusahaan Anda untuk ‘memperbaiki dunia’.
Improver memiliki kemampuan yang kokoh dalam menjalankan bisnis.
Mereka juga memiliki intergritas dan etika yang tinggi.

Personality Alert: Waspadai sifat Anda yang cenderung menjadi perfeksionis dan terlalu kritis terhadap karyawan
dan pelanggan Anda. Contoh Entrepreneur: Anita Roddick,
pendiri The Body Shop.

2. The Advisor.

Tipe kepribadian pebisnis seperti ini bersedia memberikan
bantuan dan saran tingkat tinggi bagi para pelanggannya.
Motto dari advisor ini yaitu pelanggan adalah benar dan kita
harus melakukan apa saja untuk menyenangkan mereka.

Personality Alert: Seorang advisor bisa jadi terlalu fokus
pada kebutuhan bisnis mereka dan pelanggan, sehingga
cenderung mengabaikan kebutuhan mereka sendiri dan bisa-bisa malah cape hati sendiri. Contoh Entrepreneur: John W. Nordstrom, pendiri Nordstorm.

3. The Superstar.

Inilah bisnis yang pusatnya dikelilingi oleh karisma dan energi
tinggi dari Sang CEO Superstar. Pebisnis dengan kepribadian
seperti ini biasanya membangun bisnis mereka dengan personal
brand mereka sendiri.

Personality Alert: Pebisnis dengan tipe ini bisa menjadi
terlalu kompetitif dan workaholics.
Contoh Entrepreneur: Donald Trump, CEO Trump Hotels &
Casino Resorts.

4. The Artist.

Kepribadian pebisnis seperti ini biasanya senang menyendiri
tapi memiliki kreativitas yang tinggi. Mereka biasanya sering
kali ditemukan di bisnis yang membutuhkan kreativitas seperti
pada perusahaan agen periklanan, web design, dll.

Personality Alert: Pebisnis tipe ini bisa jadi terlalu sensitif terhadap respon pelanggan Anda, walaupun kritik dari mereka bersifat membangun.

Contoh Entrepreneur: Scott Adams, pendiri dan penggagas Dilbert.

5. The Visionary.

Sebuah bisnis yang dibangun oleh seorang visioner biasanya
berdasarkan visi masa depan dan pemikiran pendirinya.
Anda memiliki keingintahuan yang tinggi untuk mengerti
dunia di sekeliling Anda dan akan membuat rencana untuk
menghindari segala macam rintangan.

Personality Alert: Seorang visioner bisa jadi terlalu fokus
pada mimpi mereka dan kurang berpijak pada realitas. Dan
jangan lupa, menyertai visi Anda dengan melakukan tindakan
nyata. Contoh Entrepreneur: Bill Gates, pendiri MicroSoft
Inc.

6. The Analyst.

Jika Anda menjalankan bisnis sebagai seorang analis, perusahaan
Anda biasanya memfokuskan pada penyelesaian masalah dalam
suatu cara sistematis.Seringkali berbasis pada ilmu pengetahuan,
keahlian teknis atau komputer, seorang analis perusahaan biasanya
hebat dalam memecahkan masalah.

Personality Alert: Hati-hati dengan kelumpuhan analisa.
Bekerjalah dengan mempercayai orang lain. Contoh Entrepreneur:
Gordon Moore, pendiri Intel.

7. The Fireball.

Sebuah bisnis yang dimiliki oleh si ‘Bola Api’ ini biasanya
dioperasikan dengan penuh hidup, energi dan optimisme.

Pelanggan merasa perusahaan Anda dijalankan dengan tingkah
laku yang fun.

Personality Alert: Anda bisa jadi berkomitmen yang berlebihan terhadap tim Anda dan bertingkah laku terlalu impulsif. Seimbangkan keimpulsivan Anda dengan rencana bisnis.

Contoh Entrepreneur: Malcolm Forbes, penerbit dan pendiri Forbes Magazine.

8. The Hero.

Anda memiliki kemauan dan kemampuan yang luar biasa dalam
memimpin dunia dan bisnis Anda melalui segala macam tantangan.
Anda adalah inti dari kewirausahaaan dan bisa mengumpulkan
banyak perusahaan besar.

Personality Alert: Terlalu mengumbar janji dan menggunakan
taktik kekuatan penuh untuk mendapatkan sesuatu dengan
cara Anda tidak akan berhasil dalam jangka waktu panjang.
Untuk menjadi sukses, percayailah keterampilan kepemimpinan
Anda untuk menolong orang lain menemukan jalan mereka.

Contoh Entrepreneur: Jack Welch, CEO GE.

9. The Healer.

Jika Anda adalah seorang ‘penyembuh’, Anda bersifat pengasuh dan penjaga keharmonisan dalam bisnis Anda. Anda memiliki kemampuan bertahan yang luar biasa dan keteguhan disertai dengan ketenangan dari dalam.

Personality Alert: Karena sifat perhatian Anda dan ‘kepenyembuhan’ Anda dalam menjalankan bisnis, Anda bisa jadi menghindari realitas di luar sana dan selalu terlalu berharap. Gunakan skenario perencanaan untuk persiapan datangnya masalah.

sumber : muditao.com

Senin, 08 November 2010

Struktur kepribadian

struktur kepribadian Freud dan menjadi konstruknya yang terpenting, yaitu id, ego dan super ego.

* Id adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera.
* Ego berkembang dari id, struktur kepribadian yang mengontrol kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Superego, berkembang dari ego saat manusia mengerti nilai baik buruk dan moral.
* Superego merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan individu atas tuntuta moral. Apabila terjadi pelanggaran nilai, superego menghukum ego dengan menimbulkan rasa salah.

Ego selalu menghadapi ketegangan antara tuntutan id dan superego. Apabila tuntutan ini tidak berhasil diatasi dengan baik, maka ego terancam dan muncullah kecemasan (anxiety). Dalam rangka menyelamatkan diri dari ancaman, ego melakukan reaksi defensif /pertahanan diri. Hal ini dikenal sebagai defense mecahnism yang jenisnya bisa bermacam-macam.

Teori Erikson

Teori Erikson : Integrasi, Perkembangan Personal, Emosional dan Sosial, Konsep Diri, Implikasinya dalam Proses Pembelajaran.

Teori Erikson (1902 – 1994) mengatakan bahwa kita berkembang dalam tahap-tahap psikososial.Erikson menekankan perubahan perkembangan sepanjang siklus kehidupan manusia.
Dalam teori Erikson, 8 tahap perkembangan terbentang ketika kita melampaui siklus kehidupan. Masing-masing tahap terdiri dari tugas perkembangan yang khas yang menghadapkan individu dengan suatu krisis yang harus dihadapi, krisis ini bukanlah suatu bencana, tetapi suatu titik balik peningkatan kerentanan & peningkatan potensi. Semakin berhasil individu mengatasi krisis, akan semakin sehat perkembangan mereka. Termasuk integrasi perkembangan personal, emosional dan sosial, serta implikasinya dalam proses pembelajaran.

1.Tahap Erikson : Basic Trust vs Basic Mistrust (Kepercayaan vs Ketidakpercayaan)
- Periode Perkembangan : masa bayi (tahun pertama)
- Karakteristik :Ialah tahap Psikososial pertama menurut Erikson yang dialami dalam tahun pertama kehidupan. Suatu rasa percaya menuntut perasaan nyaman secara fisik dan sejumlah kecil ketakutan serta kekuatiran akan masa depan.
Peran orang tua sangat dibutuhkan untuk tanggap dan peka karena pada tahap ini, individu yang memiliki rasa percaya cenderung untuk memiliki rasa aman dan memiliki rasa percaya diri untuk mengeksplorasi lingkungan yang baru.
Anak-anak yang memasuki sekolah dengan rasa tidak percaya dapat mempercayai guru tertentu yang meluangkan banyak waktu untuk membuat dirinya sebagai orang yang dapat dipercayai.

2. Tahap Erikson : Autonomy vs Shame and Doubt (Otonomi vs Rasa Malu dan Ragu-ragu)
- Periode Perkembangan : masa bayi (tahun kedua)
- Karakteristik :Setelah memperoleh kepercayaan diri pengasuh / orangtua mereka, individu mulai menemukan bahwa perilaku mereka adalah milik mereka sendiri, menyadari kemauan mereka. Otonomi dibangun atas perkembangan kemampuan mental & motorik (otonomi = kemandirian).
Penting bagi orangtua untuk mengenal motivasi anak untuk melakukan apa yang dapat mereka lakukan sesuai dengan kemampuan mereka.
Selanjutnya mereka dapat belajar mengendalikan kemampuan psikomotorik dan dorongan keinginan mereka sendiri.
Bila tahap ini terlalu banyak dibatasi / dihukum terlalu keras, maka cenderung mengembangkan rasa malu dan ragu-ragu.
Pada usia ini, anak mencoba untuk mandiri yg secara fisik dimungkinkan oleh kemampuan mereka untuk berjalan, lari dan berkelana tanpa dibantu orang dewasa lagi. Dengan kebebasan ini, anak masuk dalam periode menjelajah/eksplorasi. Beberapa hal dapat dicapai dalam periode ini, seperti keberanian untuk menjelajah, insting untuk menentukan arah sendiri. Pokoknya pada periode inilah kemampuan anak untuk percaya diri dikembangkan. Problem yang dapat terjadi, menurut Erikson, adalah rasa malu karena mereka merasa tidak mampu "be on their own". Ini akan terjadi bila orang tua terlalu banyak ikut campur misalnya membantu atau mengkoreksi kekeliruan mereka. Karena pada usia ini anak mulai belajar bahasa, maka orang tua yang terus berusaha memperbaiki anak yang sedang belajar ngomong, akan mengakibatkan anak menjadi penakut/pemalu dalam berkomunikasi.

Bagaimana sebaiknya orang tua bersikap pada periode ini? Orang tua harus sering bicara dengan anak, menanyakan pendapat anak, menciptakan suasana yang berwarna warni, mengarahkan dengan tidak langsung. ("Ini adalah seekor...gajah. Warna gajah ini puuuu...tih. Apa yg akan terjadi ketika serigala menghembus rumah babi kedua?”) Kalau anak berusaha mengikat tali sepatunya, pujilah, dan jangan dibikin betul dengan tujuan menunjukkan kesalahannya. Pada saat ini yang dia pelajari bukanlah mengikat tali dengan benar tapi bahwa dia dihargai karena punya inisiatif untuk melakukan sesuatu yang baru, On Her/His Own. Bila Kondisi yang tercipta setelah krisis pertama terlewati adalah timbulnya Harapan, maka kondisi setelah krisis kedua ini berlalu adalah "citra diri" atau "Sense of Identity". (Istilah yg digunakan Erikson adalah Will, tapi istilah Will ini bersimpang siur interpretasinya sebab Erikson menggunakan Will ini sebagai Identitias Diri, bukan Kemauan ). Anak-anak yg tidak mengembangkan citra diri mereka ini, cenderung menjadi terlalu patuh dan penurut. Orang tua perlu terus menerus menggugah rasa percaya anak bahwa mereka bisa dan boleh menentukan hidup mereka sendiri.

3. Tahap Erikson : Initiative vs Guilt (Prakarsa vs Rasa Bersalah)
- Periode Perkembangan : masa awal anak-anak (tahun pertama pra-sekolah 3-5 tahun)
- Karakteristik :Ketika anak-anak sekolah menghadapi dunia sosial yang lebih luas, mereka lebih tertantang dan perlu mengembangkan perilaku yang bertujuan untuk mengatasi tantangan-tantangan ini. Anak-anak belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum ia mampu berpikir mengenai apa yang sedang ia perbuat / intelegensi dasar dimiliki anak tersebut kelak. Pada tahap ini anak-anak belajar secara praktis dengan keterampilan-keterampilan perseptual, motorik, kognitif dan kemampuan bahasa yang mereka miliki untuk melakukan sesuatu.
Atas prakarsa mereka sendiri, anak-anak pada tahap ini beralih ke dunia sosial yang lebih luas.
Pengatur utama prakarsa adalah suara hati, prakarsa dan antusiasme mereka dapat menyebabkan mereka menerima hadiah / hukuman. Muncul pula gejala insight – learning (melihat situasi problematik, berpikir sesaat, spontan memperoleh pemahaman) dan perilaku-perilaku ranah cipta / kognitif.

Perasaan bersalah jika anak tidak diberi tanggung-jawab dan dibuat terlalu cemas, rasa bersalah dengan cepat digantikan oleh rasa berhasil.
Rata-rata binatang beberapa saat setelah lahir sudah bisa mandiri. Sebuah tayangan di TV seekor bayi jerapah yg kira-kira 4 jam setelah lahir sudah berusaha berdiri dan lari dengan ibunya. Katanya supaya tidak jadi korban makanan harimau. Bayi reptil begitu menetas sudah bisa berenang dan berlari-lari. Semua bayi ini, biarpun sudah bisa lari tetapi mereka tetap bermain-main. Konon, masa bermain ini merupakan masa mereka berlatih, menguatkan tulang dan belajar keahlian yg mereka butuhkan untuk masa dewasa mereka kelak ketika mereka harus mandiri.

Untuk manusia, masa kanak-kanak sangat lama, dan ini disebabkan karena keahlian yang harus mereka kembangkan kelak juga jauh lebih rumit daripada sekedar mencari, menerkam dan memburu makanannya sehingga masa bermainnyapun lebih lama daripada mahluk lain. Bagi Erikson, masa usia 3 sampai 6 tahun, ini adalah fase bermain. Dalam fase inilah anak-anak belajar berfantasi, belajar mentertawakan diri, mulai belajar bahwa ada pribadi lain selain dirinya. Pada fase ini terletak fondasi anak untuk menjadi kreatif yang akan menjadi sangat penting pada fase berikut.

Pada saat yang sama, kalau pada fase sebelumnya, anak perlu menciptakan sense of identity sebagai seorang manusia dan kepercayaan untuk melakukan eksplorasi sendiri, maka pada fase ini yang harus diciptakan adalah identitas diri macam apa, terutama sehubungan dengan jenis kelamin mereka. Seperti mang Jeha bilang, anak belajar menjadi lelaki atau perempuan bukan hanya dari alat kelamin tapi juga dari perlakuan sekeliling pada mereka. Fase inilah konon yg berperanan besar dalam menentukan identitas ini karena pengaruh kelamin mulai dirasakan secara psikologis: Anak lelaki menjadi lebih sayang pada ibu dan tidak begitu senang pada bapak sementara anak perempuan menjadi dekat bapak dan merasa disaingi ibu. Anak-anak kecil menjadi sayang guru TKnya. Orang tua tidak perlu khawatir dengan hal ini karena hal ini memang normal, malah kalau anak dimarahi bisa-bisa menjadi "Guilty", merasa bersalah akan identitas kelaminnya.

Apa hasil dari fase ini bila dilewati dengan sukses? "A sense of Purpose" kata Erik Erikson. Anak menjadi tidak terganggu dengan perasaan bersalah. Anak bisa menentukan apakah mereka mau menjadi seperti ayah/ibu (biasanya ya) tanpa perasaan bersalah dan anak tidak akan mengalami banyak kegelisahan karena merasa tidak dimengerti.

Apa yang bisa dilakukan ortu untuk merusak fase ini? Banyak dan contohnya adalah dengan merampok masa bermain anak dengan menyuruh mereka belajar lebih dulu dari teman-teman seumur . Anak mulai didisiplinkan untuk menghafal angka, abjad dan menulis bagus supaya lebih pandai dari yg lain. Kalau boleh jujur, seringkali sebenarnya lebih banyak ambisi membuat anak pinter ini adalah untuk gengsi ortu yang disamarkan dengan mengharapkan masa depan anak yg baik. Yang terjadi sesungguhnya adalah mengambil masa "fun" dari anak-anak sehingga emosi, kesenangan dan penjelajahan yang hanya tumbuh pada masa bermain ini tidak pernah tumbuh matang.

4. Tahap Erikson : Industry vs Inferiority (Tekun vs Rasa Rendah Diri)
- Periode Perkembangan : masa pertengahan dan akhir anak-anak (tahun-tahun sekolah, 6 tahun – pubertas)
- Karakteristik :Masa awal anak-anak yang penuh imajinasi, ketika anak-anak / individu memasuki tahun-tahun sekolah dasar, mereka mengarahkan energi mereka pada penguasaan pengetahuan & keterampilan intelektual. Tertarik pada bagaimana sesuatu diciptakan & bagaimana sesuatu itu bekerja.

Orang tua / guru memberikan antusiasme pada daya tarik anak / siswa pada kegiatan-kegiatannya, untuk mendorong bangkitnya rasa tekun anak / siswa. Sekolah menjadi sangat penting karena guru yang peka & bertanggung-jawab dapat merevitalisasi rasa tekun siswa didik.

Periode ini individu / anak berpikir intuisif / berpikir mengandalkan ilham, anak-anak berimajinasi memperoleh kemampuan 1 langkah berpikir mengkoordinasi pemikiran & idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam sistem pemikirannya sendiri.
System of Operations / 1 langkah berpikir -> dasar terbentuknya intelegensi intuitif.
Erikson yakin guru mempunyai tanggung-jawab khusus bagi perkembangan ketekunan anak-anak, guru secara lembut tetapi tegas memaksa anak-anak / individu ke dalam pencarian untuk menemukan bahwa seseorang dapat belajar mencapai sesuatu yang tidak ia pikirkan sendiri (perkembangan kognitif ditinjau dari sudut karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa).
Yang berbahaya pada tahap ini adalah perasaan tidak kompeten dan tidak produktif.

Sama seperti binatang muda, sesudah merasa tenteram dekat mama-papa, maka pada saatnya mereka mulai pergi ke alam untuk mengenalnya secara instingtif. Manusia mudapun demikian. Apabila sampai sekitar 6 tahun anak-anak masih melakukan eksplorasi tentang diri sendiri, maka selewat usia itu anak secara instingtif mulai melihat ke luar dan perkembangannya mulai berhubungan dengan dunia luar. Pada usia 6 tahun, anak mulai ke dunia di luar rumah seperti, sekolah, tetangga. Dunia luar menjadi tempat untuk tumbuh, terutama karena pada saat inilah mereka baru benar-benar mulai mampu berkomunikasi dengan anak lain sehingga mereka mulai bisa membentuk kelompok. Pada masa-masa ini tidak ada hal relatif, yang ada hanyalah kemutlakan. Semua penjahat berbaju hitam dan berwajah kotor. Pahlawan berwajah bersih, dan bajunya terang. Kelompok saya adalah kelompok lelaki dan kami benci/tidak menerima perempuan (dan sebaliknya), orang dewasa selalu benar dan guru tahu segalanya. Pada usia ini anak-anak juga sangat tertarik untuk belajar, dan sangat sulit untuk berdiam diri. Mereka belajar segala sesuatu, terutama yang berhubungan dengan fisik seperti olahraga, berlari, berenang, mengumpulkan segala sesuatu dan mengembara sampai ke batas yang disetujui. Anak-anak yang melalui fase ini dengan baik akhirnya akan memperoleh ganjaran dengan mendapatkan sense of mastery, suatu keyakinan bahwa mereka mampu menguasai masalah yg mereka hadapi. Syaratnya adalah bahwa orang-orang dewasa yg mereka hormati seperti orang tua harus mendukung kegiatan yg banyak ini karena dari dalam setiap anak memang ada keinginan untuk mengerti dan menguasai lingkungan mereka. Kesulitan bagi anak terjadi ketika ortu tidak mau repot dan cenderung melarang anak kemana-mana sehingga tidak terlalu merepotkannya. Orang tua yg terlalu lelah karena bekerja dan ingin anaknya diam, sopan dan tenang, juga merugikan pertumbuhan anaknya. Bila ini terjadi cukup lama sehingga anak memperoleh kebiasaan untuk nonton tv daripada mempelajari hal-hal di lingkungan mereka, maka anak-anak ini kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi mereka. Pada anak ini, sense of mastery diganti oleh rasa rendah diri (inferiority) yang sangat berdampak pada masa-masa yang akan datang. Anak-anak yang penuh rendah diri ini lebih sulit merasakan adanya kemampuan mereka untuk mengembangkan kompetensi dalam bidang yang penting. Orng tua yg sangat takut akan lingkungan yang tidak aman sering mengurung anak di rumah, dan memberikan TV, atau Play Station-Sega. Hal ini sangat sayang karena pada usia inilah anak paling siap untuk belajar secara aktif. Untuk orang tua semacam ini, sebaiknya membahas hal ini dengan guru anaknya karena sebenarnya pengaruh guru sangat besar pada masa-masa ini. Karena itu pula pilihan sekolah dasar sangat penting, bukan hanya karena bangunan dan fasilitasnya tapi juga harus melihat guru yg akan sangat mempengaruhi kompetensi yg tercipta.

5. Tahap Erikson : Ego-Identity vs Role Confusion (Identitas Diri vs Kekacauan Peran)
- Periode Perkembangan : masa remaja 12 - 18/20 tahun.
- Karakteristik :Pada tahap ini remaja / individu dihadapkan pada temuan siapa mereka? Bagaimana mereka nantinya? Kemana tujuan mereka?

Menuju dalam kehidupannya => Penjajakan pilihan-pilihan alternatif terhadap peran karir merupakan hal penting.

Pada tahap ini remaja memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara serentak / berurutan 2 ragam kemampuan kognitif.

1. Kapasitas menggunakan hipotesis.

2. Kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak, logis dan idealisitk (berpikir tentang pemikiran itu sendiri).

Anggapan dasar seorang remaja akan berpikir hipotesis => berpikir mengenai sesuatu khususnya dalam pemecahan masalah dengan menggunakan dasar yang relevan dengan lingkungan yang ia respon, memiliki perhatian ke masa depan, etika ideal, dsb.

Guru & orang tua mengetahui bahwa kecerdasan itu melibatkan interaksi aktif antara siswa dengan dunia disekitarnya. Oleh karenanya lingkungan siswa, seperti rumah tinggal, seyogyanya ditata sebaik-baiknya agar memberi efek positif terhadap perkembangan intelegensi anak. Terjadi proses asimilasi (info baru digabung dalam pengetahuan yang ada) => pergolakan kognitif yang tajam.

Sekolah sebagai pelatihan-pelatihan intelektual, mempertahankan orientasi-orientasinya pada hal yang komprehensif yang dirancang untuk melatih remaja secara intelektual seperti kejuruan & sosial, dalam perkembangan fisik, kognitif dan sosial orang tua dan guru harus terus memantau agar meningkatkan kemandirian remaja tertantang secaara intelektual oleh tugas akademis dan menciptakan lingkungan yang positif bagi perkembangan sosial dan emosional sebagai sesuatu yang secara intrinsik penting dalam sekolah bagi remaja.

Kurang orientasi dan tidak bisa mengendalikan emosi -> kenakalan remaja / pergaulan.

Fase ini sebenarnya adalah sumber utama Erikson sehingga dia tertarik untuk mengembangkan teori Perkembangan psikososisalnya. Tugas kita pada periode ini mungkin adalah yang terpenting, yaitu puncak dari semua yang selama ini sudah kita lalui dan yang akan kita gunakan untuk "mengarungi bahtera hidup" yakni menciptakan Identitas Diri bagi kita. Kegagalan kita akan menciptakan kerancuan identitas/peran. Apakah Identitas-diri ini? Tak lain adalah mengenal siapa diri kita sesungguhnya dan bagaimana diri ini melebur dengan masyarakat di sekeliling kita.

Menciptakan Identitas Diri yang benar adalah mengumpulkan semua pengetahuan yang kita kumpulkan sampai saat itu, dan menggabungkan semuanya menjadi suatu citradiri yang berguna bagi masyarakat. Apakah faktor terpenting supaya tercipta Identitas Diri yang sehat dan berguna bagi masyarakat ini? Salah satu faktor penting yang akan menentukan Identitas Diri ini adalah hadirnya Role Model di dalam masyarakat di mana kita hidup, yakni seseorang yang bisa dijadikan contoh.

Kehadiran orang tua, atau guru yang hebat, menjadi sangat penting. Faktor penting lainnya adalah adanya kejelasan bagaimana kita melangkah meninggalkan masa anak-anak menuju kedewasaan. Di suku Indian tertentu, anak dianggap dewasa setelah dia berhasil pergi ke padang rumput dan membawa pulang bulu elang, ekor kerbau atau tengkorak hyena. Di suku-suku Afrika, sunat adalah tanda bagi remaja lelaki yang sudah dianggap dewasa; dan ternyata memang berguna secara fisik karena lebih "bersih". Remaja wanita di Afrikapun disunat, istilah modernnya adalah Female Genital Mutilation, walaupun manfaatnya bagi wanita kurang jelas.
Intinya, yang penting ada suatu upacara yang dengan jelas menunjukkan pada umum bahwa anak sudah bukan anak lagi tetapi sudah menjadi dewasa dan dia dituntut untuk berlaku dewasa.

Identitas Diri bisa menjadi ekstrim bila para orang dewasa yang mengelilingi kita menekankan bahwa tidak ada kompromi untuk suatu hal, dan kita berakhir dengan menjadi fanatik. Yang paling sering difanatikkan adalah faktor agama atau ethnik tertentu. Remaja fanatik tidak diijinkan melihat pilihan lain dan identitas dirinya dibanjiri oleh dominasi faktor ini.

Harus kita ingat bahwa remaja baru saja meninggalkan stage ke 4 di mana mereka tidak melihat adanya relatifitas, yang ada hanya kemutlakan. Orang dewasa yang berhasil mempengaruhi anak-anak pada usia rawan ini akan berhasil mendapatkan pengikut yang sangat setia dan membabi buta. Ini sangat berhubungan erat dengan tulisan mang Jeha tentang kelik. Kelik berdasarkan agama dan etnis adalah yang paling kuat karena diumumkan pada publik lewat siering bahasa dan penampilan fisik antar anggota.

Mereka yang berhasil memperoleh Identitas Diri yang sehat mencapai suatu keadaan yang dinamai Fidelity oleh erikson, yaitu suatu kelegaan karena kita mengenal siapa diri kita, tempat kita dalam masyarakat dan kontribusi macam apa yang kita bisa sumbangkan untuk masyarakat. Sebaliknya, mereka yang gagal memiliki suatu Identitas Diri akan gelisah karena tidak jelasnya identitas mereka. Orang-orang ini bisa menjadi "drifter", si pengembara, atau si penolak (mereka bisa menolak untuk punya identitas, menolak definisi masyarakat tentang anggota masyarakat dll) dan mereka hidup sendiri bahkan ketika ada di tengah masyarakat. Lagi-lagi, dunia modern di mana orangtua sering bekerja larut malam, bercerai, bingung menghadapi perubahan kultur dan cara hidup global, merupakan tempat subur bagi pertumbuhan remaja gelisah. Tidak ada role model maupun upacara meninggalkan masa kanak-kanaknya bagi remaja-remaja ini. Akhirnya, beberapa di antara mereka mencari identitas diri dengan bergabung dalam gang-gang dan dengan kagum melihat pemimpin gang sebagai Role Model. Untuk anggota gang, upacara yang ditentukan oleh gang menjadi upacara yang menentukan status mereka dan menciptakan identitas. Mereka bisa diminta membuktikan status setelah berhasil merokok atau meminum minuman keras, atau bahkan berhubungan badan dengan anggota lama yang berlainan sex. Kegiatan mereka menjadi merusak dan mengkacaukan masyarakat, tapi bagi mereka itu tidak apa daripada hidup tanpa suatu identitas. Inilah bahaya besar dari kaum remaja yang gagal melewati masa ini dengan sukses. Sehubungan dengan perkembangan dunia modern ini, kita bisa meramal bahwa akan makin banyak kelik dan grup-grup yang bermunculan. Parahnya adalah seringkali identitas kelik ini akan bertahan sampai kita tua karena citra diri dibangun berdasarkan definisi yang dibentuk oleh kelik.

6. Tahap Erikson : Intimacy vs Isolation (Keintiman vs Pengasingan)
- Periode Perkembangan : masa awal dewasa (18/19 - 30 tahun)
- Karakteristik:Individu menghadapi tugas perkembangan pembentukan relasi yang akrab dengan orang lain, Erikson menggambarkan keakraban sebagai penemuan diri sendiri, tanpa kehilangan diri sendiri pada orang lain.

Pada periode ini, individu termotivasi untuk berhasil melalui perkembangan sosial. Pada proses belajar individu membentuk keintiman dalam proses pembentukan identitas yang tetap dan berhasil, jika keintiman tidak berkembang individu mengalami “isolasi” yang membentuk persahabatan yang sehat dan ketidakmampuan melakukan hubungan sosial individu => frustasi => introspeksi diri untuk menemukan kesalahan.
Introspeksi diri mengakibatkan depresi dan isolasi => menghambat keinginan untuk bertindak atas inisiatifnya sendiri.
Oran tua / guru memiliki implikasi penting pada kematangan mereka (kemandirian & kebebasan).
Perkembangan emosional, intelektual dan sosial.

Pada usia ini, kita sudah bukan lagi anak-anak atau remaja, tetapi pemuda atau pemudi. Kita sudah dianggap dewasa dan kita dituntut untuk bertanggung jawab penuh atas segala keberhasilan dan kegagalan kita. Tugas kita pada periode ini adalah mengenal dan mengijinkan diri kita untuk mengenal orang lain secara sangat dekat, atau masuk ke hubungan yang intim sedang kegagalan kita akan membuat kita terisolasi atau mengisolasi diri dari sekeliling kita. Keintiman dapat terjadi karena kita telah mengenal diri kita dan merasa cukup aman dengan identitas diri yang kita miliki. Akibat dari rasa aman ini adalah mengijinkan orang lain untuk sharing dengan kita melalui hari-hari dan malam-malam kita, mengenal kelebihan dan kekurangan kita. Jadi, pada pokoknya Intimacy adalah hubungan dua orang yang sudah matang dan mengenal diri masing-masing dan menciptakan suatu kesatuan yang menghasilkan karya-karya yang lebih besar.

Kehidupan modern yang mewarnai kota-kota besar, seringkali tidak mengijinkan kita untuk menjalani masa pembentukan intimacy ini dengan baik. Mobilitas seperti sekolah ke luar negeri dari satu kota ke kota lain, penugasan dari kantor ke daerah-daerah dan perpindahan yang kita lakukan karena janji karir yang lebih baik, adalah hal-hal yang menyulitkan kita dalam menemukan orang yang tepat bagi kita untuk berintimacy. Akibatnya, sebagai ganti dari intimacy adalah hubungan yang sangat superficial, didasari bukan keinginan untuk menyatu dan menciptakan suatu hubungan yang sehat tapi hanya untuk menghilangkan kesepian.

Pemuda/pemudi yang sering ganti pacar tanpa merasakan kehilangan adalah korban dari kehidupan modern. Tidak heran bahwa perceraian dan "break up" terjadi di kota modern jauh lebih banyak daripada di kota kecil di mana para penghuninya cukup waktu untuk mengembangkan hubungan yang dalam, didasar penuh kepercayaan dan bertahan lama. Bagi kita yang tidak berhasil melalui periode ini dengan baik, timbul rasa keterasingan, yang seringkali dibarengi dengan amarah dan sinis terhadap roman, terhadap ungkapan kasih, terhadap sesama manusia. Orang-orang yang dibesarkan oleh orang tua yang sangat dominan/authoritarian dan mengurung mereka, cenderung menjadi orang-orang terasing setelah orang tua mereka meninggal. Bagi kita yang berhasil dengan baik, timbul kemampuan/kekuatan yang dinamai Love oleh Erikson. Love baginya bukan Eros/Amor saja, tapi lebih pada kesediaan untuk menyadari adanya perbedaan, dan menerima perbedaan itu lewat usaha untuk terus berintim-intim antara pihak yang terkait (bisa suami/istri, atau teman).

7. Tahap Erikson : Generativity vs Stagnation (Perluasan vs Stagnasi)
- Periode Perkembangan : masa pertengahan dewasa (antara pertengahan 20-an tahun sampai 50-an)
- Karakteristik :Mencakup rencana-rencana orang dewasa atas apa yang mereka harap guna membantu generasi muda mengembangkan dan mengarahkan kehidupan yang berguna melalui generativitas / bangkit.
Sebaliknya, stagnasi / mandeg => ketika individu tidak melakukan apa-apa untuk generasi berikutnya.
Memberikan asuhan, bimbingan pada anak-anak, individu generatif adalah seseorang yang mempelajari keahlian, mengembangkan warisan diri yang positif dan membimbing orang yang lebih muda.

Tugas kita dalam fase ini adalah mengembangkan keseimbangan antara generativity dan stagnasi. Generativity adalah rasa peduli yang sudah lebih dewasa dan luas daripada intimacy karena rasa kasih ini telah men"generalize" ke kelompok lain, terutama generasi selanjutnya. Bila dengan intimacy kita terlibat dalam hubungan di mana kita mengharapkan suatu timbal balik dari partner kita, maka dengan generativity kita tidak mengharapkan balasan. Misalnya saja, sebagian sangat besar dari para orang tua tidak keberatan untuk menderita atau meninggal demi keturunannya, walau perkecualian pasti ada. Begitu pula dengan orang-orang yang melakukan pekerjaan sukarela di Salvation Army, Word Vision, Palang Merah, Green Peace dan NGO (Non-Governmental Organization) bisa dikatakan termasuk mereka yang memiliki Generativity ini.

Banyak psikolog melakukan riset mengapa orang melakukan karya altruistik (berderma atau menolong sesama) yang seringkali tidak menghasilkan apapun bagi mereka kecuali kerugian materi, waktu dan tenaga. Sampai kini para psikolog ini belum menemukan jawaban yang pasti dan diterima semua orang. Kalau Erikson benar, maka kita melakukan hal yang altruistik bukan karena kita menginginkan balasan tapi karena pertumbuhan psikologis kita menimbulkan kasih pada sesama. Kita mungkin melakukan hal-hal yang altruistik karena kita mengharapkan dunia yang lebih baik di masa depan yang akan menjadi masa depan anak-anak kita.

Stagnasi adalah lawan dari generativity yakni terbatasnya kepedulian kita pada diri kita, tidak ada rasa peduli pada orang lain. Orang- orang yang mengalami stagnasi tidak lagi produktif untuk masyarakat karena mereka tidak bisa melihat hal lain selain apakah hal itu menguntungkan diri mereka seketika. Kita tahu banyak contoh orang yang setelah berusia setengah baya mulai menanyakan ke mana impian mereka yang lalu, apa yang telah mereka lakukan dan apakah hidup mereka ada artinya. Beberapa orang yang merasa gagal dan tidak lagi punya harapan untuk mencapai impian mereka, pada saat-saat ini berusaha untuk merengkuh masa-masa yang bagi mereka terlewat sia-sia.

Kita tentu pernah mendengar mereka yang meninggalkan istri dan anak-anaknya yang kebingungan dan kekurangan, mencari istri baru dan keluarga baru untuk membangun hidup baru. Inilah mereka yang tidak berhasil melihat peranan mereka dengan lebih luas, melainkan hanya melihat apakah hidup ini bermanfaat bagi mereka pribadi. Apakah yang diperoleh mereka yang berhasil menjalani fase ini dengan sukses? Kapasitas yang luas untuk peduli. Apabila kapasitas untuk peduli dengan partner di panggil Love oleh Erikson, maka untuk hubungan yang lebih luas disebutnya Caring. Salah seorang psikolog yang mengkhususkan diri dalam konsultasi dalam bidang spiritual segera pergi ke Afrika setelah membaca tentang Aids, dan mengorbankan penghasilannya yang luar biasa. Dia adalah contoh langsung bagi saya tentang orang-orang dengan kapasitas Caring ini.

Begitu pula para sukarelawan yang setelah membaca tentang Alzeimer atau Ambon segera mencari tahu apa yang mereka dapat lakukan, bukan karena ada keluarga yang terkena tetapi karena ada orang yg menderita. Kabar baiknya adalah bahwa makin banyak anak-anak muda yang melakukan hal ini, dan kebanyakan dari negara yang sudah maju.

8. Tahap Erikson : Integrity vs Despair (Integritas dan Kekecewaan)
- Periode Perkembangan : masa akhir dewasa (60 tahunan)
- Karakteristik :Masa untuk melihat kembali apa yang telah kita lakukan dalam kehidupan kita, harapan positif.
Kehidupan baik -> merasa puas / integritas.
Masa lalu negatif -> keputusasaan.
Memaknai yang terjadi, merevisi dan memperluas pemahaman. Pada tahap ini, memiliki 3 makna biologis, emosional dan terpencil.

Masa ini dimulai sekitar usia 60, ketika seseorang mulai meninggalkan masa-masa aktif di masyarakat dan bersiap untuk hidup lebih menyendiri. Sangat berbeda dengan rata-rata orang yang ketakutan dengan datangnya usia tua, maka bagi Erikson, ini adalah masa yang sama pentingnya dengan fase-fase sebelumnya. Bahkan, masa ini mungkin masa yang paling penting karena ini adalah masa terakhir di mana kita harus bersiap untuk meninggalkan dunia ini. Tugas kita saat ini adalah mengembangkan "ego integrity", Integritas Diri, suatu rasa harga diri untuk tidak takut mati karena telah melalui hidup dengan “OK”. Lawan dari rasa integritas diri ini adalah Despair atau rasa putus asa. Orang-orang yang putus asa pada masa usia lanjut ini ditandai dengan meluapnya rasa jijik pada diri mereka sendiri, terhadap kegagalan mereka, cara mereka menyia-nyiakan hidup. Orang-orang ini seringkali penuh amarah pada mereka yang juga gagal, menganggap itu hasil kebodohan Orang-orang itu sendiri. Namun juga marah dan iri pada yang berhasil. Intinya, sebagian besar Orang-orang ini putus asa dan memandang hidup dengan negatif.

Kenapa putus asa? Sebab masa-masa ini memang penuh dengan hal-hal yang membuat kita bisa sengsara secara emosional. Fisik yang makin melemah membuat banyak orang lanjut usia makin tergantung pada orang lain. Celakanya ketergantungan ini dibarengi oleh berkurangnya kemampuan cari uang dan menurunnya manfaat bagi orang lain. Wanita mengalami hal khusus dengan datangnya menopause, dan banyak yg melihat datangnya meno ini sebagai masa pintu gerbang menuju masa tua yang dipenuhi oleh penyakit-penyakit seperti kanker payudara, kanker rahim dan osteoporosis. Lelaki yang hidup dari respek orang sekeliling sebagai pencari uang kini hilang kemampuan cari uangnya padahal keinginan direspek makin besar dan menggebu-gebu.

Lalu, teman dan saudara mulai menghilang, ada yang meninggal, ada yang pindah diboyong keluarganya ke tempat lain dan ada yang levelnya sudah ganti (jadi jauh lebih kaya atau jauh lebih miskin) sehingga menjadi sulit berhubungan lagi.

Yang paling berat, adalah memory dan regret. Sangat jarang ada orang tua yang tidak menyesali masa lalunya, masa di mana mereka seharusnya melakukan hal yang seharusnya. Rata-rata mereka berharap melakukan hal-hal yang kini akhirnya berdampak buruk seperti bersekolah lebih giat, tidak berteman dengan si A, lebih sayang pada anak atau menantunya, dll. Yang dahsyat dari kenangan ini adalah bahwa mereka tidak punya kesempatan untuk memperbaiki sehingga ada penyesalan tapi tidak ada pengobatan.

Mereka yang berhasil mengembangkan Ego Integrity, masih memiliki penyesalan tetapi mereka telah berdamai dengan masa lalu, menerima bahwa ada hal yang bisa mereka lakukan dengan lebih baik, dan ada hal yang mereka telah lakukan sebaik mungkin, dilihat dari konteks saat itu. Dan mereka ini siap apabila harus meninggal. Kalau mereka yang "Despair" atau putus asa ini memiliki rasa "Disdain" atau jijik pada hidup, maka mereka yang putus asa ini menginginkan keluarganya berhasil supaya tidak seperti dia. Tetapi caranya agak cenderung memaksa, memarahi dan menyesali sehingga membuat orang-orang di dekatnya kebingungan melayaninya karena melakukan kesalahan terus.

http://www.psikomedia.com